Cyclistes Professionnels Associés (CPA) atau Asosiasi Pesepeda Profesional mempertanyakan relevansi pemeriksaan terkait pelaksanaan tes doping yang dilakukan malam hari ketika sejumlah peserta Tour de France 2026 tengah tertidur untuk beristirahat.
CPA menegaskan dukungannya terhadap pemberantasan doping yang kuat, kredibel, dan efektif. Namun, organisasi itu mempertanyakan relevansi pemeriksaan yang dilakukan ketika para pembalap sedang beristirahat dan memulihkan kondisi tubuh.
“Pemeriksaan pada malam hari menimbulkan pertanyaan mengenai relevansinya. Mengganggu waktu istirahat mereka di tengah malam untuk menjalani pemeriksaan kini memerlukan pertimbangan serius,” demikian pernyataan CPA dilansir dari Cyclingnews.
Sorotan tersebut muncul setelah Jonas Vingegaard dibangunkan sekitar pukul 02.00 waktu setempat pada Minggu dini hari, menjelang etape pegunungan menuju Plateau de Solaison. Tadej Pogacar kemudian menjalani pemeriksaan serupa sekitar tiga jam setelahnya.
Pogacar dan Vingegaard bukan satu-satunya pembalap yang menjadi sasaran pemeriksaan. Sedikitnya lima tim lain juga didatangi petugas untuk menjalani tes pada atau sebelum pukul 05.00 waktu setempat.
Pelaksanaan tes pada waktu tersebut tidak lazim karena peraturan Uni Balap Sepeda Internasional (UCI) dan Badan Anti-Doping Dunia (WADA) pada umumnya membatasi pemeriksaan dalam rentang pukul 06.00 hingga 23.00.
Meski demikian, pemeriksaan tengah malam dapat digunakan untuk mendeteksi zat peningkat performa yang cepat hilang dari aliran darah. Zat yang dikonsumsi sebelum tidur berpotensi tidak lagi terdeteksi ketika pemeriksaan dilakukan dalam rentang waktu normal.
CPA menilai otoritas anti-doping seharusnya lebih banyak berinvestasi pada penelitian dan pengembangan teknologi pendeteksian dibandingkan menjadikan pemeriksaan tengah malam sebagai kebiasaan.
Menurut CPA, olahraga balap sepeda menyumbangkan sekitar 10 juta euro untuk mendanai pengumpulan dan analisis sampel oleh Badan Pengujian Internasional (ITA). Sementara itu, WADA disebut rata-rata hanya mengalokasikan lima juta dolar Amerika Serikat setiap tahun untuk penelitian dasar pengembangan metode pendeteksian zat doping baru di seluruh cabang olahraga.
“Bukankah akan lebih tepat untuk berinvestasi lebih banyak dalam penelitian ilmiah dan teknologi pendeteksian, dibandingkan meningkatkan jumlah pemeriksaan mendadak yang sangat mengganggu?” kata CPA.
CPA menegaskan para pembalap profesional merupakan pihak pertama yang menginginkan olahraga balap sepeda terbebas dari doping. Mereka bahkan ikut berkontribusi secara langsung dalam pembiayaan pemeriksaan anti-doping.
Namun, organisasi itu mengingatkan bahwa pemeriksaan yang mengganggu waktu tidur dapat memengaruhi proses pemulihan dan menciptakan ketidakadilan karena hanya pembalap atau tim tertentu yang kehilangan waktu istirahat.
“Tujuan kami bukan mempertanyakan pemberantasan doping, justru sebaliknya. Kami ingin upaya tersebut semakin efektif, tepat sasaran, dan efisien dalam mengidentifikasi pelaku kecurangan, tetapi tetap menghormati hak dasar, kesehatan, dan kondisi pemulihan atlet,” ujar CPA.
CPA juga berharap seluruh pemangku kepentingan duduk bersama untuk memperjelas prosedur pemeriksaan serta memastikan setiap tes dilakukan dalam kerangka hukum yang ketat.
“Pemberantasan doping yang efektif sangat penting. Pemberantasan doping yang cerdas juga sama pentingnya,” tegas CPA.

