Sepeda onthel, dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah roadster bicycle, atau sering disebut dengan nama sepeda unta, pit kebo (sepeda kerbau), atau pit pancal, adalah sebuah jenis sepeda standar dengan ukuran ban 28 inci yang pernah menjadi pilihan utama masyarakat perkotaan hingga akhir tahun 1970-an. Demikian dilansir dari laman Wikipedia, Selasa (2/9/2025)
Kata “Onthel” yang merupakan bahasa Jawa yang artinya mengayuh. Kata Onthel bagi masyarakat Jawa identik dengan sebutan bagi sepeda yang bertenagakan ayuhan kaki.
Sepeda onthel mengacu pada sepeda desain Belanda yang bercirikan posisi duduk tegak dan memiliki reputasi yang sangat kuat dan berkualitas tinggi. Karakteristiknya adalah terdapat rumah rantai tertutup atau katengkas (pelafalan dari bahasa Belanda kettingkast) dengan gigi yang tidak bisa diubah dan biasanya terdapat dinamo di bagian roda depan untuk menyalakan lampu. Sepeda ini juga dilengkapi rem drum atau rem tromol untuk pengereman.
Ketengkas ini berfungsi untuk melindungi rantai sepeda dari kotoran dan debu. Selain itu, sepeda ini umumnya dilengkapi dengan gigi yang tidak dapat diubah, serta dinamo di bagian roda depan untuk menyalakan lampu, yang sangat berguna saat berkendara di malam hari. Sebagai sistem pengereman, sepeda onthel menggunakan rem drum atau rem tromol yang dikenal efektif dan tahan lama.
Pada masa kejayaannya, sepeda onthel hadir dengan berbagai merek dari berbagai negara. Pada segmen premium, merek-merek seperti Fongers, Gazelle, dan Sunbeam menjadi pilihan utama.
Sementara itu, pada segmen di bawahnya terdapat merek-merek terkenal seperti Simplex, Burgers, Raleigh, Humber, Rudge, Batavus, Phillips, dan NSU yang turut memeriahkan pasar sepeda onthel di Indonesia.
Dan Raleigh bisa dibilang sebagai salah satu merek sepeda ontel tertua. Sepeda ini berasal dari Inggris dan sudah diproduksi sejak tahun 1886.
Sejarah Sepeda Onthel di Indonesia
Sepeda onthel pertama kali banyak digunakan di Indonesia pada masa Hindia Belanda. Sepeda ini menjadi kendaraan yang sangat populer di kalangan masyarakat perkotaan sebagai sarana transportasi yang efisien dan terjangkau.

Namun, pada tahun 1970-an, keberadaannya mulai tergeser oleh sepeda jengki, yang lebih kompak dan didesain lebih modern baik dari segi ukuran tinggi maupun panjangnya.
Berbeda dengan sepeda onthel, sepeda jengki tidak membedakan desain untuk pengendara pria dan wanita. Salah satu merek sepeda jengki yang populer pada masa itu adalah Phoenix, yang berasal dari China.
Pada dekade 1980-an, sepeda jengki mulai digeser oleh sepeda gunung (MTB), yang semakin populer karena desainnya yang lebih sesuai dengan kebutuhan aktivitas luar ruangan dan medan yang lebih bervariasi. Di Indonesia, sepeda onthel kemudian lebih banyak digunakan oleh masyarakat pedesaan, sementara di perkotaan sepeda motor mulai menggantikan posisi sepeda sebagai alat transportasi pribadi.
Pada tahun 2000-an, sepeda onthel yang dahulu mulai jarang ditemukan di masyarakat perkotaan, tiba-tiba menjadi barang antik yang diburu kembali. Fenomena ini dikenal dengan istilah “wolak-waliking zaman” dalam bahasa Jawa, yang berarti kembalinya suatu hal dari masa lalu ke zaman kini.
Proses kebangkitan sepeda onthel ini terjadi seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan ancaman global warming. Sepeda onthel, yang dikenal sebagai alat transportasi ramah lingkungan, kembali menarik perhatian berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pejabat.


